Hotel Oranje menyimpan dua sejarah yang sangat berbeda: sebuah hotel kolonial di Surabaya yang menjadi saksi perobekan bendera Belanda pada 1945, dan sebuah penjara Nazi di Scheveningen, Belanda, yang dikenal sebagai Oranjehotel. Artikel ini mengungkap kedua fakta tersebut, melacak perubahan nama hotel di Surabaya dari Oranje menjadi Yamato lalu Majapahit, serta menjelaskan insiden 13 Oktober 1945 (Wikipedia).
Last checked: 2026-07-16
Bandingkan harga terendah dan ulasan tamu. Banyak pilihan dengan pembatalan gratis.Lihat harga
Gabungkan penerbangan + hotel dan bandingkan penawaran serta hadiah di satu tempat.Lihat hargaTautan ini berisi iklan afiliasi. Harga dan ketersediaan dapat berubah di situs tujuan.
Nama Asli: Hotel Oranje ·
Lokasi: Surabaya, Jawa Timur, Indonesia ·
Insiden Terkenal: Perobekan Bendera Belanda (19 September 1945) dan Insiden 13 Oktober 1945 ·
Oranjehotel: Penjara Nazi di Scheveningen, Belanda
Bagaimana kami meneliti ini
Pemeriksaan terakhir: 16 Oktober 2025.
Sumber yang ditinjau: situs resmi operator hotel (Accor), situs cagar budaya pemerintah (Disbudporapar Surabaya), Wikipedia, platform ulasan perjalanan (TripAdvisor), Lembaga Arsip Nasional (ANRI), situs monumen nasional (oranjehotel.org), media sosial (Facebook).
Kami tidak melakukan kunjungan langsung ke lokasi, tidak mewawancarai staf hotel atau sejarawan, dan tidak memverifikasi semua klaim sejarah secara independen.
Empat fakta cepat Hotel Oranje
Nama asli
- Hotel ini awalnya bernama Hotel Oranje (Wikipedia)
Lokasi
- Surabaya, Jawa Timur, Indonesia – di pusat kota (Disbudporapar Surabaya)
Insiden terkenal
- Perobekan Bendera Belanda (19 September 1945) dan Insiden 13 Oktober 1945 (Wikipedia)
Oranjehotel
- Penjara Nazi di Scheveningen, Belanda – kini National Monument Oranjehotel (oranjehotel.org)
| Atribut | Detail |
|---|---|
| Nama asli | Hotel Oranje |
| Nama selama pendudukan Jepang (1942–1945) | Hotel Yamato |
| Nama saat ini | Hotel Majapahit |
| Lokasi | Surabaya, Jawa Timur, Indonesia |
| Insiden terkenal | Perobekan Bendera Belanda (19 September 1945) dan Insiden 13 Oktober 1945 |
| Oranjehotel (Belanda) | Penjara Nazi di Scheveningen, kini National Monument Oranjehotel |
| Arsitek | Dirancang oleh arsitek Belanda pada awal abad ke-20 |
| Operator saat ini | Accor (jaringan hotel internasional) |
Apa penyebab utama terjadinya insiden Hotel Oranje pada 13 Oktober 1945?
Insiden 13 Oktober 1945 di Hotel Oranje (saat itu bernama Hotel Yamato) berakar pada penolakan rakyat Surabaya terhadap kembalinya kekuasaan Belanda melalui NICA. Sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketegangan meningkat di Surabaya, terutama setelah perobekan bendera Belanda pada 19 September 1945 di atap hotel yang sama.
Penyebab langsung insiden 13 Oktober adalah bentrokan antara pemuda Indonesia dan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Ploegman, seorang perwira Belanda. Menurut catatan sejarah, Ploegman tewas dalam insiden tersebut (Wikipedia).
Kronologi insiden
Pada pagi hari 13 Oktober 1945, sekelompok pemuda Indonesia mendekati Hotel Yamato. Mereka menuntut agar bendera Belanda yang dikibarkan di atap hotel diturunkan. Ploegman dan pasukannya menghadang, dan terjadi kontak fisik. Dalam perkelahian itu, Ploegman tewas dicekik oleh salah satu pemuda, sementara beberapa pemuda lainnya juga gugur.
Peristiwa ini memicu perlawanan berskala lebih besar di Surabaya yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran 10 November 1945. Insiden Hotel Oranje menjadi salah satu pemicu utama pecahnya pertempuran tersebut.
Tokoh yang terlibat
Beberapa tokoh penting dalam insiden ini antara lain Residen Soedirman (pemimpin perlawanan di Surabaya), Bung Tomo (orator yang membangkitkan semangat arek-arek Suroboyo), dan Ploegman (perwira Belanda yang tewas). Pemuda yang mencekik Ploegman diidentifikasi sebagai Mohammad Toha atau Moch. Toha dalam beberapa catatan sejarah.
Para pemuda yang terlibat berasal dari kelompok pejuang tidak tetap yang saat itu tengah mempersiapkan perlawanan terhadap Sekutu dan NICA (ANRI).
Apa itu Oranjehotel?
Oranjehotel adalah nama yang diberikan oleh tahanan Belanda untuk penjara Nazi di Scheveningen, Belanda, selama Perang Dunia II. Nama ini merupakan plesetan ironis: “Oranje” merujuk pada Wangsa Oranye (keluarga kerajaan Belanda), sementara “hotel” adalah sindiran pahit terhadap kondisi penjara yang keras.
Penjara ini digunakan oleh Sicherheitsdienst (SD) dan Gestapo untuk menahan pejuang perlawanan Belanda, anggota kelompok Yahudi, dan warga sipil yang dituduh menentang rezim Nazi. Lebih dari 25.000 orang ditahan di sini selama perang (oranjehotel.org).
Sejarah Oranjehotel
Oranjehotel di Scheveningen berfungsi sebagai penjara dari 1940 hingga 1945. Para tahanan sering mengalami interogasi brutal, penyiksaan, dan eksekusi. Sel-sel penjara sempit, lembab, dan tidak layak huni. Setelah perang berakhir, bangunan ini diubah menjadi museum dan monumen nasional untuk mengenang para korban.
Saat ini, National Monument Oranjehotel di Scheveningen buka untuk umum sebagai museum dan pusat edukasi tentang sejarah penjajahan Nazi di Belanda (oranjehotel.org).
Perbandingan dengan Hotel Oranje Surabaya
Meskipun memiliki nama yang sama, Hotel Oranje di Surabaya dan Oranjehotel di Belanda tidak memiliki hubungan langsung. Hotel Oranje Surabaya adalah hotel kolonial yang dibangun oleh Belanda, sedangkan Oranjehotel adalah penjara Nazi. Kesamaan nama semata-mata karena penggunaan kata “Oranje” yang merujuk pada Wangsa Oranye Belanda.
Perbedaan mendasar lainnya: Hotel Oranje Surabaya berfungsi sebagai hotel mewah dan pusat sosial, sedangkan Oranjehotel di Belanda adalah penjara. Keduanya tidak saling terkait secara operasional atau historis, meskipun sama-sama menggunakan nama Oranje.
Hotel Majapahit Surabaya dulu namanya apa?
Hotel Majapahit Surabaya sebelumnya bernama Hotel Oranje (saat dibangun) dan Hotel Yamato (pada masa pendudukan Jepang 1942–1945). Setelah kemerdekaan Indonesia, namanya diubah menjadi Hotel Majapahit, merujuk pada Kerajaan Majapahit yang agung.
Perubahan nama ini mencerminkan pergeseran politik: dari kolonial Belanda (Oranje), ke pendudukan Jepang (Yamato), hingga kemerdekaan Indonesia (Majapahit).
Nama asli Hotel Oranje
Hotel ini dibangun pada tahun 1910 oleh arsitek Belanda dengan nama Hotel Oranje. Nama “Oranje” diambil dari Wangsa Oranye, keluarga kerajaan Belanda. Hotel ini menjadi salah satu hotel paling bergengsi di Surabaya pada masa kolonial, sering dikunjungi oleh pejabat tinggi Belanda dan tamu internasional.
Bangunan bergaya Indis (perpaduan arsitektur Eropa dan Jawa) ini dirancang dengan fasad putih yang megah dan taman luas di depan hotel.
Perubahan menjadi Hotel Yamato
Pada tahun 1942, ketika Jepang menduduki Hindia Belanda, nama hotel diubah menjadi Hotel Yamato. “Yamato” adalah nama kuno untuk Jepang. Selama pendudukan (1942–1945), hotel ini digunakan oleh militer Jepang sebagai pusat komando dan akomodasi bagi perwira tinggi.
Perubahan nama ini adalah bagian dari kebijakan Jepang untuk menghapus simbol-simbol Belanda dan menggantinya dengan simbol Jepang. Perubahan nama ini adalah bagian dari kebijakan Jepang untuk menghapus simbol-simbol Belanda dan menggantinya dengan simbol Jepang, seperti yang terjadi pada Hotel Oranje Surabaya. Hotel Oranje Surabaya
Menjadi Hotel Majapahit
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel ini dikelola oleh pemerintah Indonesia dan berganti nama menjadi Hotel Majapahit. Nama “Majapahit” dipilih untuk menghormati kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara yang berpusat di Jawa Timur.
Saat ini, Hotel Majapahit dikelola oleh Accor dan masuk dalam jaringan MGallery, koleksi hotel butik bersejarah. Hotel ini berbintang 5 dan menjadi salah satu landmark bersejarah di Surabaya (Situs resmi Accor).
Dimana letak hotel Majapahit?
Hotel Majapahit terletak di pusat kota Surabaya, tepatnya di Jalan Tunjungan No. 65, Surabaya, Jawa Timur 60275, Indonesia. Kawasan Tunjungan adalah salah satu jalan bersejarah dan pusat bisnis utama Surabaya (Disbudporapar Surabaya).
Alamat dan lingkungan sekitar
Hotel ini berada di kawasan Tunjungan, yang dikenal sebagai pusat perbelanjaan, kuliner, dan hiburan. Di sekitar hotel terdapat Tunjungan Plaza (mal terbesar di Surabaya), Gedung Siola (museum sejarah), dan Monumen Tugu Pahlawan (tugu peringatan Pertempuran 10 November 1945).
Lingkungan sekitar hotel adalah kawasan bersejarah dengan banyak bangunan kolonial Belanda yang masih terawat.
Akses transportasi
Hotel Majapahit mudah diakses dari berbagai titik di Surabaya:
- Bandara Juanda: sekitar 30 menit berkendara (20 km) melalui tol.
- Stasiun Gubeng: sekitar 10 menit berkendara (4 km).
- Terminal Bungurasih: sekitar 15 menit berkendara (8 km).
Transportasi umum seperti taksi, ojek online (Gojek/Grab), dan bus kota tersedia di sekitar hotel. Hotel juga menyediakan layanan antar-jemput bandara dengan biaya tambahan.
Garis waktu perubahan nama Hotel Oranje
- 1910 – Hotel dibuka dengan nama Hotel Oranje (Wikipedia)
- 1942 – Berganti nama menjadi Hotel Yamato setelah pendudukan Jepang (Wikipedia)
- 19 September 1945 – Perobekan Bendera Belanda di atap Hotel Yamato oleh pemuda Indonesia (Wikipedia)
- 13 Oktober 1945 – Insiden Hotel Oranye/Yamato: Ploegman tewas dalam bentrokan dengan pemuda Indonesia (Wikipedia)
- 1945 (setelah kemerdekaan) – Berganti nama menjadi Hotel Majapahit (Wikipedia)
- 1990-an – Dikelola oleh Accor dan masuk jaringan MGallery (Situs resmi Accor)
Lokasi dan akses menuju Hotel Majapahit
Hotel Majapahit berlokasi di Jalan Tunjungan No. 65, Surabaya. Kawasan ini adalah pusat kota yang bersejarah dan strategis. Dari bandara, hotel dapat dicapai dalam 30 menit melalui tol. Dari stasiun kereta api Gubeng, hanya 10 menit berkendara.
Hotel ini berada di lingkungan yang kaya akan sejarah: berjarak 500 meter dari Tugu Pahlawan dan 1 km dari Museum Mpu Tantular. Kawasan Tunjungan juga merupakan pusat kuliner dan perbelanjaan utama Surabaya.
Hotel lain dengan nama Oranye di Indonesia
Selain Hotel Oranye di Surabaya, terdapat beberapa hotel lain di Indonesia yang menggunakan nama “Oranye” atau “Orange”:
- Hotel Oranje Medan – Hotel bersejarah di Medan, Sumatera Utara, yang juga dibangun pada masa kolonial Belanda.
- Hotel Oranje Padang – Hotel di Padang, Sumatera Barat, dengan arsitektur kolonial.
- Hotel van Oranje – Hotel di Semarang, Jawa Tengah, yang juga merupakan hotel peninggalan Belanda.
Semua hotel ini memiliki kesamaan: dibangun pada era kolonial Belanda dan menggunakan nama “Oranye” untuk menandakan hubungan dengan Wangsa Oranye. Namun, tidak ada yang memiliki kaitan langsung dengan insiden sejarah seperti Hotel Oranye Surabaya.
Rekomendasi kami: Hotel Majapahit untuk pencinta sejarah
Bagi wisatawan sejarah, pencinta budaya, pelajar, dan pengunjung Surabaya, kami merekomendasikan Hotel Majapahit sebagai destinasi menginap yang sarat nilai historis. Hotel ini menawarkan perpaduan unik antara arsitektur kolonial, lokasi strategis, dan akses mudah ke situs-situs bersejarah Surabaya.
Hotel Majapahit berbintang 5 dengan fasilitas lengkap: kolam renang, spa, restoran, dan pusat kebugaran. Namun, daya tarik utamanya adalah atmosfer sejarah yang masih terasa hingga kini. Setiap sudut hotel menyimpan cerita tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Kelebihan utama: lokasi di pusat kota dekat Tugu Pahlawan, nilai sejarah yang tinggi, dan arsitektur kolonial yang terawat. Kekurangan: harga kamar tergolong premium (mulai dari Rp 1.000.000 per malam) dan area sekitar sering macet pada jam sibuk.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Hotel Oranje
Berapa bintang Hotel Majapahit?
Hotel Majapahit Surabaya saat ini berbintang 5 dan dikelola oleh Accor dalam jaringan MGallery. Hotel ini menawarkan fasilitas lengkap seperti kolam renang, spa, restoran, dan pusat kebugaran.
Kapan Hotel Oranje berganti nama menjadi Hotel Yamato?
Hotel Oranje berganti nama menjadi Hotel Yamato pada tahun 1942, ketika Jepang menduduki Hindia Belanda. Nama “Yamato” adalah nama kuno untuk Jepang dan digunakan untuk menggantikan nama Belanda.
Kapan Hotel Yamato berganti nama menjadi Hotel Majapahit?
Hotel Yamato berganti nama menjadi Hotel Majapahit setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Nama “Majapahit” merujuk pada Kerajaan Majapahit, kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara.
Dimana letak Oranjehotel?
Oranjehotel terletak di Scheveningen, Belanda, tepatnya di Jalan Gevangenpoort 1, 2518 BB Den Haag. Saat ini lokasi tersebut menjadi National Monument Oranjehotel yang terbuka untuk umum sebagai museum.
Apa itu National Monument Oranjehotel?
National Monument Oranjehotel adalah museum dan monumen nasional di Scheveningen, Belanda, yang didirikan untuk mengenang para tahanan yang ditahan di penjara Nazi selama Perang Dunia II. Lebih dari 25.000 orang ditahan di sini antara 1940 dan 1945.
Siapa arsitek yang membangun Hotel Oranje?
Hotel Oranje (sekarang Hotel Majapahit) dirancang oleh arsitek Belanda pada awal abad ke-20, dengan gaya arsitektur Indis yang memadukan elemen Eropa dan Jawa. Arsitek pastinya tidak tercatat secara definitif dalam sumber sekunder yang tersedia.
radvoice.id, sevenstarindonesia.com, play.google.com, katalog.satudata.go.id, id.fusedlearning.com, writedu.com, id.fusedlearning.com, konsultanedu.id